Selasa, 31 Januari 2012

“ LINGKUNGAN BIOTIK DAN ABIOTIK”


 BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.
Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Unsur Hayati (Biotik)
Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
2. Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
3. Unsur Fisik (Abiotik)
Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.
            Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhka tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Adapun jenis-jenis tanah sebagai berikut :
Tanah Humus, Tanah Pasir, Tanah Alluvial/Tanah Endapan, Tanah Podzolik, Tanah Vulkanik/Tanah Gunung Berapi, Tanah Laterit, Tanah Mediteran/Tanah Kapur, dan Tanah Gambut/Tanah Organosol.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apakah faktor edafik (tanah) ?
2.      Apa yang dimaksud Tropografi ?
3.      Apakah faktor lingkungan biotik dan bagaimana interaksinya?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor edafik (tanah)
2.      Untuk mengetahui topografi tanah
3.      Untuk mengetahui faktor lingkungan biotik dan interaksinya.














BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Faktor Edafik (Tanah)
2.1.1 Tanah dan Bahan Tanah
A. Tanah
Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhka tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Tanah menurut pandangan para ahli dapat di bagi dalam dua segi :
§   Tanah di pandang sebagai bentukan alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan serta manusia, yang mempunyai sifat tersendiri dan mencerminkan hasil pengaruh berbagai faktor yang membentuknya di alam.
§   Tanah di pandang sebagi saran produksi tanaman yang mampu menghasilkan berbagai tanaman.

Ø  Jenis-Jenis Tanah :
1.      Tanah Humus
Sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/01/jenis-jenis-tanah.html
Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.




2.      Tanah Pasir
Sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/01/jenis-jenis-tanah.html
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.
3.      Tanah Alluvial / Tanah Endapan
Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
4.      Tanah Podzolit
Sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/01/jenis-jenis-tanah.html
Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.



5.      Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi
Sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/01/jenis-jenis-tanah.html
Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.
6.      Tanah Laterit
Sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/01/jenis-jenis-tanah.html
Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.
7.      Tanah Mediteran / Tanah Kapur
Sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/01/jenis-jenis-tanah.html
Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

8.      Tanah Gambut / Tanah Organosol
Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.

Ø  Ciri-Ciri Tanah :
·         Tanah Humus
-            Berada di permukaan tanah
-            Warnanya gelap
-            Terbentuk dari pembentukan sisa mahluk hidup
-            Sangat bagus untuk pertanian/bercocok tanam
·         Tanah Liat / Lempung
-            Berwarna kuning kecoklatan
-            Mudah di bentuk
-            Sulit di lalui air
-            Butiran-butiran tanahnya halus
-            Tidak bagus untuk bercocok tanam
·         Tanah Gambut
-            Terdapat di daerah hutan rawa-rawa
-            Berwarna coklta kehitaman
-            Bersifat asam dan unsur haranya rendah
·         Tanah Berpasir
-          Terdapat banyak butiran pasir
-          Sangat mudah di lalui air
-          Sedikit mengandung bahan organik
-          Tidak bagus untuk bercocok tanam
·         Tanah Kapur
-          Mengandung bebatuan
-          Mengandung sedikit humus
-          Berwarna putih kecoklatan
-          Mengandung sedikit bahan organik
·         Tanah Vulkanis
-          Berasal dari bekas letusan gunung berapi
-          Mengandung banyak zat organik dan mineral
-          Sangat bagus untuk bercocok tanam
-          Berwarna gelap
·         Tanah Aluvial
-          Merupakan hasil pengendapan sungai
-          Terdapat banyak pasir
-          Sedikit mengandung bahan organik
-          Berwarna gelap (coklat kehitaman)

            B. Bahan Tanah
Tanah merupakan hasil evolusi dan mempunyai susunan teratur yang unik yang terdiri dari lapisan-lapisan atau horizon-horizon yang berkembang secara genetik. Tanaman dan hewan memperoleh lingkungan pada semua jenis tanah, menjadi bagian dari tanah organik. Carbon dalam bahan organik hilang dari tanah sebagai karbon dioksida akibat perombakan (dekomposisi) oleh mikrobia. Nitrogen di ubah dari bentuk organik menjadi bentuk anorganik. Lebih jauh lagi bahan organik merupakn bahan yang di gunakan untuk translokasi dari satu tempat ke tempat yang lain dalam tanah dengan perantara air dan aktifitas hewan.
            Bahan penyusun mineral mengalami perubahan yang dapat di pertimbangkan keasamannya. Dalam semua jenis tanah mineral-mineral menahan mineral-mineral sekunder dan campuran lainnya dengan pembentukan serentak dan dengan berbagai macam daya larutannya yang padat di pindahkan dari satu horizon ke horizon lainnya.
Tanah tersusun atas 4 bahan utama, yaitu: bahan mineral, bahan organik, air dan udara. Untuk lebih jelasnya kita bahas satu-per satusecara singkat :

1. Bahan Mineral
- Berasal dari hasil pelapukan batuan.
- Susunan mineral dalam tanah berbeda-beda sesuai susunan mineral batuan induknya (beku, malihan dan endapan)
- Ukuran mineral :
- Kerikil, kerakal, batuan : > 2 mm
- Pasir : 2 mm – 50 u
- Debu : 50 u – 2 u
- Lliat : < 2 u
            Mineral dapat dibedakan menjadi : mineral primer dan mineral sekunder.
Mineral primer adalah mineral yang berasal langsung dari batuan yang dilapuk, umumnya dalam fraksi-fraksi pasir dan debu. Mineral sekunder baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung, umumnya dalam fraksi liat.

2. Bahan Organik

- Hasil penimbunan sisa-sisa tumbuhan dan binatang, sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali menjadi mangsa jasad mikro, sehingga sifatnya selalu berubah atau tidak mantap.
- Kadar bahan organik pada tanah mineral umumnya < 3%.
- Berfungsi sebagai perekat butiran tanah, sumber utama unsur N, P dan S, meningkatkan kemampuan tanah dan menahan air dan hara serta sebagai sumber energi bagi jasad mikro.
- Komposisi :
a. jaringan asli (bagian akar dan atas tanaman) dan bagian baru yang telah mengalami pelapukan.
b. humus : telah diubah dari sifat aslinya secara menyeluruh, berwarna hitam, bersifat kolodial, kemampuan menahan air dan ion lebih besar dari liat.

3. Air
- Dalam tanah terdapat dalam ruang pori tanah.
- Kuat atau tidaknya air ditahan oleh tanah yang mempengaruhi tingkat ketersediaan air tanah bagi tanaman.
- Air dalam pori besar umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena segera hilang merembves ke bawah.
- Air dalam pori sedang: mudah diserap oleh tanah.
- Air dalam pori halus : sulit diambil oleh tanaman. Jadi, tidak semua air dalam tanah tersedia bagi tanaman, sebagian tetap tinggal dalam tanah.
- Larutan tanah mengandung garam-garam larut, sebagian besar berupa hara tanaman :
· N, P ,K Ca, Mg dan S (hara makro)
· Fe,Mn, B, Mo,Cu, Zn dan Cl (hara mikro)
- Terjadi dinamika hara dengan adanya pertukaran antara hara dalam larutan dengan yang terdapat di permukaan tanah.

4. Udara
- Menempati pori tanah (terutama sedang dan besar)
- Jumlahnya berubah-ubah tergantung kondisi air tanah.
- Susunannya tergantung dari reaksi yang terjadi dalam tanah :
· uap air > atmosfer
· CO2 > atmosfer
· O2 < atmosfer (bervariasi dipengaruhi kandungan CO2 dalam tanah)

2.1.2 Tanah Sebagai Medium
Tanah sebagai medium merupakan tempat dimana mikroorganisme hidup dan berkembangbiak. Selain itu tanah juga merupakan tempat tumbuh bagi tanaman maupun tumbuhan. Sedangkan pada manusia, tanah merupakan tempat yang di gunakan untuk tempat tinggal maupun sebagai sumber penghidupan bagi mereka. Contohnya saja seperti :
-          Bagi seorang petani tradisional tanah sebagai medium, dapat diartikan sebagai lingkungan bertempat tinggal dan sebagai sumber penghidupan. Karena dengan tanah mereka dapat tinggal dan hidup.
-          Bagi seorang pengusaha batu merah tanah digunakan sebagai medium untuk pembuatan genting dan juga pengusaha keramik. Tanah merupakan bahan baku produksi untuk pengembangan usahanya, terutama adalah tanah liat yang lekat yang merupakan bahan baku produksi tersebut.

2.1.3 Fisika Tanah
Tekstur dan struktur tanah sangat mempengaruhi semua fisik tanah, seperti : daya tahan mengikat air dan permeanilitas, peredaran udara di dalam tanah, temperatur dalam tanah, serta mudah dan tidaknya pengolahan tanah. Oleh karena itu akan dikemukakan bagaimana hubungannya dengan keadaan tanah :
a.        AIR DAN TANAH
Hujan tidak akan jatuh sepanjang tahun, karena adanya muim hujan dan musim kemarau. Bahwa tanaman itu hanya dapat hidup dan menghisap makanan karena adanya air.sedangkan tanaman membutuhnya air sepanjang hidupnya. Tanah itu sendiri banyak mengandung air dimusim penghujan dan akan mengering pada musim kemarau. Oleh karena itu perlu kita ketahui bagaimana keadaan kandungan air agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, yakni :
1)      Masuknya air kedalam tanah
Pada waktu turun hujan, akan terjadi senbagian air hujan mengalir pada permukaan tanah, sebagian masuk kedalam tanah dan sebagian akan menguap. Besarnya air yang masuk kedalam itu dibanding dengan besarnya air hujan yang jatuh tergantung dari bebepa faktor, seperti :
·         Keadaan tirai tanah: pada lereng tanah yang makin tajam, akan semakin besar alirannya dari pada menyerap.
·         Kepadatan tanah : pada tanh gembur akan lebih banyak air yang masuk kedalam tanah dari pada tanah yang lebih padat.
·         Keadaaan mikro-relief tanah: pada tana yang bergalur lebih banyak menghisap air dari pada tanah yang merata semata-mata.
·         Kebasahan tanah: air akan mudah masuk pada tanah yang agak basah, bila terlalu kering air akan mudah lari, sebaliknya bila terlalu basah tanah sudah jenuh.
·         Keadaan vegetasi: air mudah masuk tanah yang ada tanamanya dari tanah gundul, karena pada tanah yang gundul selalu terbentuk alur-alur pengaliran air; selain itu pada tanah yang gundul akan selalu terbentuk kerak-kerak tanah.
·         Deras dan tidaknya air hujan: bila hujan terlalu sedikit akan habis menguap. Bila hujan terlalu deras, akan lebih banyak mengalir dan yang menyerap kedalam tamh hanya sedikit saja. Maka curah hujan yang baik ialah 1 mm per jam.
·         Keadaan penguapan: hal ini tergantung dari usaha udara dan angin.
2)      Kekuatan menahan air dan permeabilitas  tanah
Kekuatan menahan air dan permeabilutas tanah disebut juga pengikatan air oleh tanah dan daya meluluskan air. Semakin halus partikel-partikel tanah semakin banyak air yang tertahan, karena permukaan tanah halus lebih luas dari pada tanah yang kasar. Maka permeabilitas dinyatakan dengan kecepatan air turun sampai kelapissan tanah yang tebawah, dan ini tergantung dari tekstur tanah dan struktur tanah.
3)      Penggunaan air tanah oleh tanaman
Tanaman menghisap air dari tanah, hanya air kapiler yang dihisap terlebih dahulu, sehingga lapisan air pada permukaan sedikit demi sedikit akan berkurang. Lama-kelamaan tanah akan berkurang.
Kandungan air dalam tanah:
a.       Kapasitas menahan maksimal
b.      Kapasitas lapang
c.       Titik layu permanen
d.      Titik higrokopis
e.       Kandungan air tersedia bagi tanaman
4)      Peredaran air didalam tanah
Gerakan air bisa dapat tejadi melalui berbagai pipa rambut kapiler, merrayap melalui agregat-agregat yang bersambungan atau melalui berbagai lubang cacing dan lubang-lubang bekas akar tanaman yang mati. Gerakan air kebawah pada musim hujan terjadi oleh gaya beratnya sendiri yang disebut gravitasi.


b.        PEREDARAN UDARA DIDALAM TANAH
Udara tanah menempati ruang pori-pori makro antara agregat-agregat sekunder tanah. Udara didalam tanah ini berguna bagi pernafasan akar dan kegiatan jasad-jasd hidup tanah. Akar tanaman memerlukan oksigen untuk pernafasan, pengambilan hara dan air. Udara tanah banyak menandung karbondioksida, dan kandungan oksigennya lebih sedikit. Sebaliknya karbondioksida dihasilkan terus dari hasil pernafasan akar dan penguraian bahan organik tanah.

c.         TEMPERATUR TANAH
Temperatur tanah merupakan salah satu sifat fisika tanah yang banyak pengaruhnya pada proses dalam tanah dan pertumbuhan tanaman.
Temperatur tanah mempengaruhi :
a.     Proses pelapukan
b.    Populasi dan kegiatan makro dan mikrobia tanah
Temperatur pada lap9isan tanah atas mengalami perubahan selama satu hari satu malam (24 jam) yang perubahanya sangat tergantung pada musim. Perubahan temperatur tergantung dari : letak tanah, warna tanah, kelembaban tanah, tanah berhumus, keadaan bercuaca, bentuk wilayah, tanaman penutup.

d.    MUDAH DAN TIDAKNYA PENGOLAHAN TANAH
Mudah dan sukarnya pengolahan tanah itu tergantung dari 2 sifat tanah: daya pengikat (partikel-partikel yang saling mengikat) dan daya lekat (mudah melekat pada benda lain). Karena daya mengikat maka tanah mudah menjadi padat sehingga sulit diolah. Sedangkan tanah yang mempunyai daya lekat akan mudah melekat pada alat-alat yang dipakai. Dengan mengetahui sifat-sifat tanah tersebut, maka tanah berpasir lebih mudah diolah dari pada tanah lempung dan tanah liat. Mudah dan tidaknya pengolahan tanah bukan Cuma tergantung oada teksturnya saja, melaikan juga dari kepadatannya dan kebasahannya. Daya ikat dan daya lekat itu akan berkurang sesuai dengan kandungan air didalamnya.



2.1.4 Kimia Tanah (Bahan Organik dan Anorganik Dalam Tanah)
Dari segi kimia tanah, tanah merupakan suatu kumpulan dari banyak sekali senyawa, dari senyawa-senyawa sederhana hingga senyawa-senyawa organik dan anorganik yang kompleks. Tanaman secara teratur mengambil unsur-unsur hara dari tanah, dan mengembalikan dalm bentuk bagian-bagian pohon yang mati dan daun-daun yang jatuh ke tanah. Karena tanaman itu hanya menghisap makanan dengan perantara air, maka tanaman itu terdiri dari air dan bahan kering. Bahan kering ini menurut penyelidikan terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik (mineral).
Bahan organik ini ada yang mengandung N  dan ada yang tidak. Yang tidak mengandung N terdiri dari unsur-unsur C, H, O. Sedangkan yang mengandung N terdiri dari unsur C, H, O, N. Dimana bahan organik ini ± 80% dari bahan kering, yakni: C = carbonium, H= hidrogenium, O= oksigenium, dan N= mikrogenium.
Bahan anorganik atau mineral ± 20% dalah bahan kering. Meskipun jumlahnya sedikit, bila dibanding dengan bahan organik, dalam usaha pemupukan sangat penting. Bahan-bahan mineral ini terdiri dari unsur-unsur: S= surfur atau belerang, P= pospor, K= kalium, Cl= kloor, Si= silicium, Ca= kalsium atau kapur,  Fe = ferum atau zat besi, Na= natrium, Mg= magnesium, dan Al= alumunium.

2.1.5 Organisme Dalam Tanah
Ada beberapa jenis organisme tanah, diantaranya adalah:
Pemecah bahan organik seperti slaters (spesies Isopoda), tungau (mites), kumbang, dan collembola yang memecah-mecah bahan organic yang besar menjadi bagian-bagian kecil. Pembusuk bahan organik seperti jamur dan bakteri yang memecahkan bahan-bahan cellular.
Organisme bersimbiosis hidup pada/di dalam akar tanaman dan membantu tanaman untuk mendapatkan hara dari dalam tanah. Mycorrhiza bersimbiosis dengan tanaman dan membantu tanaman untuk mendapatkan hara posfor, sedangkan rhizobium membantu tanaman untuk mendapatkan nitrogen. Pengikat hara yang hidup bebas seperti alga dan azotobakter mengikat hara di dalam tanah. Pembangun struktur tanah seperti akar tanaman, cacing tanah, ulat-ulat, dan jamur semuanya membantu mengikat partikel-partikel tanah sehingga struktur tanah menjadi stabil dan tahan terhadap erosi.
Patogen seperti jenis jamur tertentu, bakteri dan nematoda dapat menyerang jaringan tanaman. Predator atau pemangsa, termasuk protozoa, nematoda parasite dan jenis jamur tertentu, semuanya memangsa organisme tanah yang lain sebsagai sumber makanan mereka. Occupant/penghuni adalah jenis organisme tanah yang menggunakan tanah sebagai tempat tinggal sementara pada tahap siklus hidup tertentu, seperti ulat (larvae) dan telur cacing.


2.1.6 Profil Tanah
           
Sumber : Google search : Profil Tanah
http://www.nanik.al-unib.net/2011/02/struktur-tanah/

Kalau kita menggali tanah yang dalam, dari permukaan hingga ke batuan induk, akan tampak berbagai lapisan yang berbeda-beda, baik mengenai tebal lapisan, warna, dan susunan. Galian itu akan merupakan suatu penampang horizontal. Penampang horizontal ini disebut sebagai profil tanah, sedangkan lapisan-lapisan tersebut disebut horizon.
Jadi profil tanah merupakan suatu kumpulan berbagai macam lapisan tanah.
Horizon-horizon itu di beri tanda dengan huruf, lapisan atas sampai bawah yaitu A,B,C. Horizon A adalah bagian profil tanah yang terdiri dari seresah atau bahan organik segar sisa tanaman, hewan serta bahan organik yang telah diuraikan. Horizon B adalah lapisan di mana terkumpul unsur-unsur yang berasal dari horizon A yang telah terurai sehingga terjadi pengumpulan hasil penguraian tersebut. Sedangkan horizon C adalah lapisan bahan induk.
            Profil tanah tebalnya berlainan mulai dari yang setipis selaput sampai tebal 10 meter. Pada umumnya tanah semakin tipis mendekati kutub dan semakin tebal mendekati khatulistiwa.
            Uraian profil tanah di mulai dengan menentukan letak batas horizon, mengukur dalamnya dan mengamati profil tanah secara keseluruhan. Pada dasarnya horizon tanah mempunyai ciri-ciri yang juga di hasilkan oleh proses genese tanah.
            Masing-masing horison di bedakan dari horizon yang di atas atau di bawahnya oleh ciri-ciri yang spesifik dan genetis.
            Pada garis besarnya horizon-horizon dapat di bedakan atas horizon organik O dan horizon mineral A, B, C dan R. Msing-masing horizon utama akan di jelaskan di bawah ini.
Ø  Horizon Organik
Horizon organik adalah lapisan tanah yang sebagian besar terdiri dari bahan organik, baik masih segar maupun sudah membusuk terbentuk paling atas di atas horizon mineral. Warna umum kelam (dark) sampai hitam. Horizon ini terbagi lagi :
-          Horizon organik yang bahan organiknya mkasih mempunyai ciri dan bentuk terlihat jelas dengan mata biasa serupa bahan asalnya. Misalnya : Tulang daun, batang, sisa tubuh hewan hyphae Fungi masih tampak jelas. Lapisan ini juga disebut lapisan mulsa (mulch).
-          Horizon sisa tumbuhan dan hewan yang sedang atau telah mengalami pelapukan, sehingga tidak menampakkan lagi ciri dan bentuk asalnya. Horizon ini berwujud penimbunan bahan organik berwarna hitam yang dinamakan humus. Dengan sendirinya sifat horizon di tentukan oleh jenis vegetasi yang tumbuh di atasnya, iklim dan drainase.
Ø  Horizon Mineral A
Horizon mineral A paling atas terbagi lagi atas :
-          Horizon mineral terbentuk paling atas yang menampakkan ciri-ciri percampuran erat bahan mineral dan bahan organik. Partikel mineralnya di selaputi bahan organik atau bahan organik merupakan partikel tersendiri, sehingga memberikan warna hitam atau warna kelam pada horizon.
-          Horizon Eluviasi merupakan ciri terlindi paling maksimal. Karena kation, dan organik besi, alumunium, dan atau basa lainnya yang berwarna telah terlindih dan yang tertinggal bahan-bahan resisten atau kuarsa yang kasar tidak berwarna, maka horizon-horizon ini bersifat warnanya paling cerah atau paling muda atau paling pucat, tekstur paling kasar dan struktur paling longgar di banding horizon lainnya.
-          Horizon ini merupakan peralihan ke horizon B atau C dengan ciri dan warna yang lebih mendekati horizon A2 (horizon eluviasi). Tetapi jika peralihannya kurang jelas dan hanya menampakkan ciri dan warna campuran maka horizonnya di beri simbol AB jika beralih ke ke horizon B, dan AC jika beralih ke horizon C.
Ø  Horizon mineral B
Horizon mineral illuviasi mempunyai ciri dominan : 1. Akumulasi basa, lempung, besi, alumunium dan atau bhan organik masing-masing sendiri atau bersama-sama yang terlindi dari horizon A di atasnya; 2. Konsentrasi residu sesquioxida atau dan lempung yang terbentuk karena larutannya karbonat atau garam-garam lain; atau 3. Perubahan (alterasi) baha-bahan dari keadaan asalnya dan terbentuknya struktur berbutir (granuler), gumpal (blocky), atau tiang (prismatic). Ciri umu horizon ini ialah warna lebih kelam, tekstur lebih berat dan struktur lebih rapat jika di bandingkan dengan horizon-horizon lainnya, terutama dengan horizon A di atasnya. Horizon ini terbagi lagi :
-  Horizon peralihan dengan horizon A yang mempunyai warna dan ciri lebih mendekati warna dan ciri horizon B.
-  Horizon yang paling maksimal menampakkan horizon B, sehingga warnanya lebih kelam, tekstur paling gelap dan strukur paling padat.
-  Horizon peralihan dari horizon B ke horizon C atau R dengan warna dan ciri lebih mendekati warna dan ciri horizon B. Horizon yang merupakan percampuran yang sukar di bedakan antara horizon ini dengan horizon di bawahnya di beri simbol BC jika dengan horizon C, dan BR jika dengan horizon R.
Ø  Horizon Mineral C
Horizon mineral, bukan batuan, sembarang apakah sama ataupun tidak sama dengan bahan induknya, relatif kurang di pengaruhi proses pengembangan tanah dan tidak memperlihatkan ciri-ciri diagnosik horizon A atau B tetapi tersusun atas bahan-bahan yang telah di ubah oleh : a. Pelapukan di luar daerah kegiatan biologi utama, b. Pemadatan (cementasi) revensible, proses perapuhan, penambahan berat volume dan sifat-sifat lain dari fragipan, c. Gleisasi (gleysasi), d. Penimbun dan pemadatan (akumulasi dan sementasi), karbonat kapur atau Mg, atau juga garam-garam lain yang larut, atau e. Pemadatan (cementasi) oleh bahan silikat alkali atau silika. Horizon ini tidak terbagi lagi.
Ø  Horizon R
Adalah lapisan batuan induk tanah yang terdapat di atasnya dan berupa batuan tubuh.

2.2 Topografi
Topografi (relief) adalah bentuk permukaan suatu satuan lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitudo) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang Topografi secara kualitatif adalah bentuk bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lerang, panjang lereng bentuk lereng.
Menurut kamus Bahasa Indonesia, topografi adalah :
1. Kajian atau penguraian yang terperinci tentang keadaan muka bumi pada suatu daerah
2. Pemetaan yang terperinci tentang muka bumi pada daerah tertentu
3. Keadaan muka bumi pada suatu kawasan atau daerah
4. Uraian tentang suatu bagian tubuh sampai ke segala hal ihwal anatominya



2.2.1 Pengaruh Ketinggian    
Faktor topografi meliputi ketinggian dan kemiringan lahan. Ketinggian  suatu tempat erat kaitannya dengan perbedaan suhu yang akhirnya menyebabkan  pula perbedaan kelengasan udara. Diantara daerah yang mempunyai ketinggian  yang berbeda, akan ditumbuhi oleh vegetasi yang jenisnya berbeda pula karena  vegetasi tumbuhan maupun hewan mempunyai tingkat adaptasi yang berlainan.  Oleh sebab itu kita mengenal jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang khas untuk  daerah-daerah dengan ketinggian tertentu.

2.2.2  Pengaruh Kemiringan
Sepanjang kecuraman dari suatu lereng meningkat, terjadi aliran permukaan dan erosi yang lebih besar, tanah bergerak secara perlahan-lahan, infiltrasi air kurang dan air tersedia kurang bagi aktivitas kimia dan biologi. Pengaruh kemiringan merupakan suatu penundaan dalam pembentukan tanah. Umumnya peningkatan kemiringan dan persen dikaitkan dengan suatu pengurangan dalam:
a.    Pencucian
b.    Kandungan bahan organik
c.    Translokasi lempung
d.   Pelapukan mineral
e.    Differensiasi horison
f.     Ketebalan solum
Erosi dalam lereng yang curam umumnya berkaitan pada tanah yang tipis, khususnya didasari oleh bantuan induk. Tanah-tanah yang dewasa umumnya ditemukan pada ketinggian yang cukup, pengikisan lereng karena suatu ketidak seimbangan antara erosi dan konversi bahan induk pada tanah. Sepanjang erosi menurunkan ketebalan horison A, bagian teratas horison B menjadi bersatu pada bagian terbawah horison A. Bagian teratas horison C menjadi bersatu pada bagian bawah horison B. Pada kondisi ini, tanah nampaknya tetap sama selama periode waktu yang panjang yang lambat laun mengerosi dan mencuci landsekap.
Selama panjang lereng, kemungkinan air yang mengalir dipermukaan dari bagian teratas lereng, terinfiltrasi pada bagian terbawah lereng dan menimbun bahan yang terkikis yang terbawa dalam larutan. Suatu peningkatan panjangnya lereng pada prairi-prairi di Iowa bagian barat dikaitkan dengan peningkatan ketebalan tanah, kedalaman pencucian kalsium karbonat dan kandungan bahan organik. Tanah-tanah yang teletak pada lereng sebelah timur dengan kemiringan 24% dibandingkan dengan lereng sebelah barat dengan kemiringan 14% mempunyai kandungan bahan organik serta pencucian lebih besar karena lereng sebelah timur lingkunganya lebih besar sebab mereka dilindungi dari angin barat yang panas yang bertiup diatasnya. Aspek dan keadaan alami lereng yang berbeda dapat menimbulkan perbedaan mikroklimat dan perbedaan-perbadaan pada tanah pada suatu lendskap lokal.
           
2.2.3 Phytogeografi
Phytogeography (dari kata yunani phyto = tanaman dan makna geografi juga distribusi), juga disebut geobotany, adalah cabang dari biogeografi yang berkaitan dengan distribusi geografis tanaman spesies. Phytogeography berkaitan dengan semua aspek dari distribusi tanaman, dari kontrol pada distribusi antara spesies individu (baik skala besar dan kecil, lihat distribusi spesies) dengan faktor-faktor yang mengatur komposisi seluruh masyakat dan flora.

2.3 Faktor lingkungan biotik dan interaksinya
Faktor biotik ialah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di yang ada bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, sedangkan hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.
2.3.1 Interaksi antar tumbuhan dalam komunitas
Komunitas bisa di katakan sebagai kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
Dalam tingkatan komunitas ciri, sifat dan kemampuannya lebih tinggi dari populasi misalnya dalam hal interaksi. Dalam komunitas bisa terjadi interaksi antar populasi, tidak hanya antar individu atau spesies seperti pada populasi. Hubungan antar populasi ini menggambarkan berbagai keadaan yaitu bisa saling menguntungkan sehingga terwujud suatu hubungan timbal balik yang positif bagi kedua belah pihak (mutualisme), sebaliknya bisa juga terjadi hubungan salah satu pihak dirugikan (parasitisme). Contoh dari parasitisme adalah pohon mangga dengan benalu. Dimana benalu merupakan parasit bagi inangnya (pohon yang di tumpanginya) yaitu pohon mangga. Karena benalu menyerap sari-sari makanan dari inangnya (pohon yang di tumpanginya), yang dapat menyebabkan pohon itu mati lama kelamaan.

2.3.2  Interaksi hewan dan tumbuhan dalam komunitas
            Pada interaksi ini faktor hewan juga memiliki peranan penting terhadap penyebaran tumbuhan. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan  faunanya.
Interaksi antara hewan dan tumbuhan dalam suatu komunitas merupakan suatu interaksi dimana populasi suatu hewan tertentu berinteraksi dengan tumbuhan yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Interaksi tersebut bisa berupa interaksi yang menguntungkan ataupun yang merugikan. Sebagai contohnya adalah interaksi antara populasi kumbang dengan tanaman bunga yang ada di sekitarnya, dimana kumbang membantu bunga dalam proses penyerbukan dan kumbang itu sendiri mendapatkan madu dari bunga yang di hinggapinya. Interaksi tersebut di sebut sebagai interaksi mutualisme (saling menguntungkan).

2.3.3. Interaksi manusia dan tumbuhan
            Makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan. Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia. Manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan flora dan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan dan perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor manusia berpengaruhi terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini.
Perubahan lingkungan secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Sehubungan dengan itu, agar makhluk hidup bisa hidup normal maka perubahan lingkungan tidak boleh sampai keluar dari kisaran tertentu. Manusia dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan secara aktif karena manusia mempunyai tingkat kemampuan berfikir (kecerdasan) yang lebih tinggi dari makhluk lain. Contohnya saja manusia mampu mengubah lingkungan misalnya dengan pemberian pupuk, penghijauan, reboisasi, irigasi dan sebagainya untuk meningkatkan bidang pertanian dan melestraikan lingkungan. Sedangkan untuk mendukung peningkatan sumber daya perairan, manusia dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas perikanan dengan proses pembibitan, pembudidayaan dan teknik akuakultur ikan di tambak secara tepat guna.
Lingkungan yang stabil adalah keseimbangan diantaranya komponen-komponen penyusunnya. Hutan yang tidak terganggu merupakan ekosisitem yang stabil, adanya perubahan oleh manusia membuat ekosistem menjadi tidak stabil. Kestabilan ekosistem dapat diukur juga pada skala yang lebih sempit. Sebagai contoh adalah habitat cacing tanah (Pheretima sp.) yang hidup ditanah yang lembab. Tanah yang lembab memiliki suhu, kelembaban dan kandungan zat organik yang sesuai dengan kebutuhan hidup cacing tanah. Jika tanah tidak terganggu , maka kestabilan tetap terjaga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam sebuah ekosistem terjadi keseimbangan yang dinamis dalam bentuk saling ketergantungan komponen yang satu dengan komponen lain dan sebaliknya.











BAB III
KESIMPULAN

·         Faktor Edafik (Tanah) meliputi : 1. Tanah dan bahan tanah, 2. Tanah sebagai medium, 3. Fisika tanah, 4. Kimia Tanah (bahan organik dan anorganik dalam tanah), 5. Organisme dalam tanah, 6. Profil tanah, 7. Adaptasi tumbuhan terhadap jenis tanah.
·         Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: Unsur Hayati (Biotik), Unsur Budaya, dan Unsur Fisik (Abiotik).
·         Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhka tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
·         Adapun jenis-jenis tanah sebagai berikut : Tanah Humus, Tanah Pasir, Tanah Alluvial / Tanah Endapan, Tanah Podzolit, Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi, Tanah Laterit, Tanah Mediteran / Tanah Kapur, dan Tanah Gambut / Tanah Organosol.
·         Tanah tersusun atas 4 bahan utama, yaitu: bahan mineral, bahan organik, air dan udara.
·         Fisika tanah meliputi : Air dan tanah, Peredaran udara di dalam tanah, Temperatur tanah, dan mudah tidaknya pengolahan tanah.
·         Topografi (relief) adalah bentuk permukaan suatu satuan lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitudo) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform).
·         Topografi tanah meliputi : Pengaruh Ketinggian, dan Pengaruh Kemiringan.
·         Phytogeography (dari kata yunani phyto = tanaman dan makna geografi juga distribusi), juga disebut geobotany, adalah cabang dari biogeografi yang berkaitan dengan distribusi geografis tanaman spesies.
·         Faktor biotik ialah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di yang ada bumi, baik tumbuhan maupun hewan.
·         Faktor biotik meliputi : Interaksi antar tumbuhan dalam komunitas, Interaksi hewan dan tumbuhan dalam komunitas, dan Interaksi manusia dan tumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Djaenudin, D. 2004. Beberapa Sifat Spesifik Andisol untuk Pembeda Klasifikasi pada Tingkat Seri : Studi Kasus di Daerah Cikajang dan Cikole, Jawa Barat. http://e-jurnal.perpustakaan.ipb.ac.id/files/D_Djaenudin_beberapa_sifat_spesifik.pdf di akses pada tanggal 24 Oktober 2011
Font,Henry D.1998.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Gajah Mada university  Press:Yogyakarata
M.isa darmawijaya.1990. Klasifikasi Tanah.UGM Press: Jogjakarta
Suhardi.1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Kanisius: Yogyakarta
Anonymous.2010.Ekologi Komunitas. http://elfisuir.blogspot.com/2010/03/ekologi-komunitas.html. di akses pada tanggal 30 Oktober 2011


0 komentar:

Poskan Komentar

TV Streaming

tutorial blogger Indonesia

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | WordPress Themes Review